Kata Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, "Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". Benar sekali apa yang dikatakannya. Tapi bagiku, bermimpi saja tidaklah cukup. Jika kita bisanya hanya bermimpi dan malas untuk berusaha, maka tidak akan ada gunanya bermimpi. Usaha adalah komponen penting dalam perjalanan meraih mimpi. Di dalamnya terdapat strategi, planning, doa, dan segala komponen tambahan yang menyempurnakannya.
Dalam ilmu ekonomi, terdapat hukum penawaran yang berbunyi, 'Penawaran akan barang dan jasa berbanding lurus dengan perubahan tingkat harga', artinya jika harga naik, maka pedagang akan menaikkan jumlah barang yang ditawarkannya. Bagaimana jika kita aplikasikan ini sebagai prinsip peraihan mimpi? Usaha dalam meraih mimpi, berbanding lurus dengan hasil yang kita peroleh. Ketika kita bekerja ekstra keras dalam meraih mimpi-mimpi kita, maka hasil yang diberikan Tuhan untuk kita pun akan memuaskan dan sesuai bahkan melampaui ekspektasi kita.
Lantas, bagaimana peranan takdir? Bukankah takdir merupakan komponen yang bersifat mutlak dalam setiap bidang kehidupan manusia? Ya, benar sekali, disinilah yang namanya, ceteris paribus. Para siswa IPS, mahasiswa FEB, atau para penggemar ekonomi pasti tahu, setiap ada hukum permintaan/penawaran, pasti pada akhirnya ada kata-kata 'dengan catatan ceteris paribus'. Ceteris paribus sama artinya dengan hal-hal lain yang bersifat tetap. Dan disanalah takdir diibaratkan, Hukum Bermimpi I akan berlaku jika takdir itu tetap berpihak pada mimpi-mimpi kita. Bagaimana jika takdirnya bicara berbeda? Ya mimpi kita belum menemui waktunya untuk terwujud.
Untuk para pemimpi dan pejuang mimpi. Bermimpilah selama kau hidup, dan berjuanglah selama ruh masih ada dalam ragamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar