Minggu, 24 Mei 2015

Jatuh Cinta : Sepaket Lara & Bahagia

“Jika kau merasa bahagia dan sakit di waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela nafas. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kau sedang jatuh cinta”. Begitulah kata Tere Liye dalam novelnya yang berjudul HUJAN. Memang benar, saat jatuh cinta, terdapat 2 sisi rasa yang akan kita alami, bahagia dan sakit, dimana keduanya tak bisa dipisahkan dan memang berpasangan.

Bila untuk mencintainya kau hanya akan memanen kesedihan, maka tinggalkanlah sekarang juga, sebelum semuanya terlampau jauh berjalan. Namun, jika kau merasa cukup kuat untuk mencintai seseorang dalam keadaan demikian, bertahanlah sekali lagi, perjuangkan rasa yang ada, tunjukkan padanya bahwa rasa sayangmu besarnya tak terbilang. Asalkan kau tahu, kapan saatnya harus berhenti, berjalan mundur, menjauh dan mencari pengganti yang mungkin lebih baik daripada dia yang tak peka juga akan perasaanmu.

Ada milyaran bahkan trilyunan laki-laki maupun perempuan di dunia ini. Saat satu orang tak bisa kau ajak “berdiplomasi” atau “bernegosiasi” mengenai perasaanmu, maka masih ada antrian panjang yang bahkan mungkin dengan senang hati memperjuangkanmu. Ketahuilah, idealis boleh-boleh saja, namun saat sifat idealis tak lagi dapat bicara, maka realistis-lah jalan keluar satu-satunya.

Ketika usahamu memperjuangkan seseorang tak membuahkan hasil sedikitpun, beralihlah pada hati yang lain. Percayalah, Tuhan tahu apa yang terbaik untukmu. Bulan tak akan bisa jauh dari bumi, karena memang takdirnya seperti itu. Seperti halnya engkau, tak akan pernah dijauhkan oleh cinta sejatimu, hanya saja saat kau belum mendapatkannya, waktu mungkin belum berkenan untuk mempertemukan kalian.

Sekian~

Selasa, 12 Mei 2015

Wahai Pejuang SBMPTN, Ini Pesan Untuk Kalian

Mungkin, tertolak dalam SNMPTN adalah hal yang paling bikin galau hampir seluruh pelajar SMA/SMK/MA/MAK/Sekolah Swasta saat ini. Ya gimana nggak galau coba? Satu tiket untuk melenggang bebas ke universitas impian tanpa tes, malah melayang. Duh!

Tapi teman, cobalah berpikir positif, hilangkan kesedihan, kekecewaan. Nangis boleh, kecewa boleh, sedih boleh, karena itu manusiawi. Justru dengan menangis, kita bisa sedikit merasa lega. Air mata akan membantu kita untuk mengumpulkan energi yang sudah tersita oleh rasa kecewa. Menangis, menangislah! Tapi jangan terlalu lama. Kecawa, silahkan! Tapi jangan terlena. Bangkit, tersenyum lagi, belajar lebih giat lagi, berdoa, dan setiap hari katakan pada diri sendiri "Aku pasti bisa menaklukkan SBMPTN".

Wahai para pejuang SBMPTN. Mulai dari sekarang, susunlah strategi, buatlah planning, tetapkan target, tuliskan secara detil apa yang harus kalian lakukan. Selain itu belajarlah. Untuk soal hitung-hitungan dan TPA, saya sarankan banyak latihan soal. Dan untuk soal hafalan, banyak membaca akan sangat membantu kalian. Buat ringkasan seringkas-ringkasnya, buat mind map serapih-rapihnya, kalo bisa diwarnain pake spidol, biar semangat belajarnya. Kalo kalian les, berangkat terus, jangan males. Tapi kalo nggak les, coba cari-cari soal SBMPTN di internet. Banyak banget kok website yang menyediakan, sekalian kunci jawabannya. Kerjakan soal itu, terus cocokkan sama kuncinya, dan lihat hasilnya.

Lalu, untuk mengintensifkan dan mengefektifkan, kita harus membuat jadwal belajar. Hari ini harus belajar apa, besok apa, dengan durasi berapa jam, istirahatnya berapa menit. Selain itu, kita juga harus mengadakan semacam tes kecil-kecilan, untuk mengukur sejauh mana materi yang kita kuasai. Lakukan evaluasi di setiap saat. Cari tahu juga, mana materi yang sudah kita kuasai, mana yang belum. Jika belum menguasai, belajar lebih giat lagi. Namun, jika ada materi yang sudah dikuasai, jangan merasa puas dulu, tetap belajar, tapi kadarnya dikurangi.

Mungkin, saya tidak merasakan pahitnya kekecewaan karena tertolak dalam SNMPTN, karena Alhamdulillah saya sudah diterima di jurusan Hubungan Internasional UGM. Tapi saya tahu, bagaimana sakitnya kegagalan di masa lalu. Namun, kegagalan itu bukan menjadi alasan untuk berhenti, melainkan saya jadikan titik tolak untuk berusaha lebih keras lagi.

Senin, 11 Mei 2015

Hukum Bermimpi I

Kata Andrea Hirata dalam salah satu novelnya, "Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". Benar sekali apa yang dikatakannya. Tapi bagiku, bermimpi saja tidaklah cukup. Jika kita bisanya hanya bermimpi dan malas untuk berusaha, maka tidak akan ada gunanya bermimpi. Usaha adalah komponen penting dalam perjalanan meraih mimpi. Di dalamnya terdapat strategi, planning, doa, dan segala komponen tambahan yang menyempurnakannya.

Dalam ilmu ekonomi, terdapat hukum penawaran yang berbunyi, 'Penawaran akan barang dan jasa berbanding lurus dengan perubahan tingkat harga', artinya jika harga naik, maka pedagang akan menaikkan jumlah barang yang ditawarkannya. Bagaimana jika kita aplikasikan ini sebagai prinsip peraihan mimpi? Usaha dalam meraih mimpi, berbanding lurus dengan hasil yang kita peroleh. Ketika kita bekerja ekstra keras dalam meraih mimpi-mimpi kita, maka hasil yang diberikan Tuhan untuk kita pun akan memuaskan dan sesuai bahkan melampaui ekspektasi kita.

Lantas, bagaimana peranan takdir? Bukankah takdir merupakan komponen yang bersifat mutlak dalam setiap bidang kehidupan manusia? Ya, benar sekali, disinilah yang namanya, ceteris paribus. Para siswa IPS, mahasiswa FEB, atau para penggemar ekonomi pasti tahu, setiap ada hukum permintaan/penawaran, pasti pada akhirnya ada kata-kata 'dengan catatan ceteris paribus'. Ceteris paribus sama artinya dengan hal-hal lain yang bersifat tetap. Dan disanalah takdir diibaratkan, Hukum Bermimpi I akan berlaku jika takdir itu tetap berpihak pada mimpi-mimpi kita. Bagaimana jika takdirnya bicara berbeda? Ya mimpi kita belum menemui waktunya untuk terwujud.

Untuk para pemimpi dan pejuang mimpi. Bermimpilah selama kau hidup, dan berjuanglah selama ruh masih ada dalam ragamu.